Memiliki Armor Perang, Firaun Muda yang Satu Ini Tidak Seperti yang Anda Duga

Gambar seniman yang melukiskan Dewa Mesir (Referensi pihak ketiga)

Beberapa bulan yang lalu, dunia arkeologi dan sejarah terperangah atas pengungkapan “armor” atau baju perang untuk King Tut atau Tutankhamun, Firaun Mesir paling terkenal dalam sejarah.

Sebuah pakaian perang terbuat dari kulit yang dilapisi pelindung besi berusia 3.000 tahun ditemukan di makam Tutankhamun pada tahun 1920-an dan saat ini disimpan di Museum Mesir Agung di Kairo.

Baju perang King Tut ketika ditemukan (Referensi pihak ketiga)

Belum lama ini, para peneliti menganalisis sisa-sisa dari lapisan kulit baju dengan menggunakan teknik yang disebut Reflectance Transformation Imaging (RTI). Hasil dari penggabungan berbagai gambar mengungkapkan beberapa fitur yang tersembunyi dari armor, yaitu bagaimana baju itu apakah benar-benar dikenakan oleh seseorang untuk berperang, atau hanya sebagai ornamen belaka.

Referensi pihak ketiga

Banyak orang menganggap firaun Tutankhamun yang meninggal di usia 18 tahun, sebagai seorang remaja sakit-sakitan dengan penyakit Kohler (gangguan tulang langka pada kaki), seperti yang diteorikan oleh studi tahun 2010 yang diterbitkan di The Journal of American Medical Association.

Namun pertanyaannya, apakah Tutankhamun memang seperti itu? Menurut Lucy-Anne Skinner, seorang mahasiswa doktoral di University of Northampton dan British Museum, yang ikut serta dalam penelitian, mengatakan hipotesis Tutankhamun sebagai seorang pejuang muda.

Referensi pihak ketiga

Menurut Skinner, hampir pasti baju besi yang ada di makam King Tut itu memang digunakan sebagai pelindung untuk berperang. Kesimpulannya dicapai dengan memeriksa gambar RTI yang menunjukkan adanya tanda-tanda lecet yang ditemukan di tepi sisik kulit armor. Sederhananya, para peneliti telah mencatat bahwa tanda-tanda lecet ini mungkin disebabkan pada peristiwa di zaman kuno dulu, bukan terjadi pada saat awal ditemukan. Alasannya karena tanda-tanda itu secara khusus ditemukan di sepanjang tepinya. Seperti yang diklarifikasi Skinner – “Jika abrasi terjadi setelah penggalian, saya akan menduga itu dapat ditemukan di seluruh bagian, bukan hanya tepi.”