Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.

Pengantar.
Ketika Islam dihujat sebagai agama ekslusif, rasis bahkan fasis, maka respon kaum muslimin pun beraneka ragam. Meskipun didasari rasa yang sama, rasa cinta kepada Islam dan Nabi Muhammad Saw, akan tetapi aksi yang berbeda menimbulkan respon yang juga ikut tidak sama. Sebagian sikap kaum muslimin justru mengaminkan tuduhan yang dilontarkan, sehingga orang-orang yang tidak senang terhadap Islam hanya tinggal mengutip bukti dari sebuah asumsi. Di tengah hiruk pikuk tersebut kaum muslimin mesti berhenti sejenak, kembali membaca Islam dari sumber aslinya. Karena tidak semua perlakukan umat Islam sebagai interpretasi Islam. Betapa banyak tindakan umat Islam justru jauh dari nilai-nilai Islam. Tulisan singkat ini ingin mengungkap kedatangan Rasulullah Saw yang digambarkan Allah Swt sebagai ramatan li al-‘alamin sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Qs. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Menjadi Rahmat Bagi Semesta Alam.
Allah Swt tidak menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi orang-orang beriman saja, bukan pula menjadi rahmat bagi umat manusia saja. Akan tetapi kedatangannya menjadi rahmat bagi semesta alam. Semesta alam merasakan kedatangannya sebagai rahmat. Ungkapan “rahmat bagi semesta alam” bukanlah hanya tetesan tinta diatas kertas, ungkapan tanpa makna dan bukti. Sejarah mencatat bahwa kedatangan nabi Muhammad Saw dirasakan semesta alam sebagai rahmat, bukan hanya orang-orang beriman yang merasakannya, akan tetapi semua umat manusia, bahkan hewan dan tumbuh-tumbuhan pun dapat merasakan rahmat yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw.

Menjadi Rahmat Bagi Hewan.
Tidak hanya makhluk berakal yang merasakan kehadiran nabi Muhammad Saw sebagai rahmat, bahkan hewan sekalipun merasakan kehadirannya sebagai rahmat. Ini dapat dilihat dari keseharian Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dikisahkan:
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل واضع رجله على صفحة شاة وهو يحد شفرته وهي تلحظ إليه ببصرها قال : أفلا قبل هذا ؟ أو تريد أن تميتها موتات ؟ رواه الطبراني في الكبير والأوسط ورجاله رجال الصحيح
ورواه الحاكم إلا أنه قال: أ تريد أن تميتها موتات ؟ هلا أحددت شفرتك قبل أن تضجعها
Dari Ibnu abbas, ia berkata: “Rasulullah Saw melewati seorang laki-laki yang meletakkan kakinya diatas tubuh kambing sementara itu ia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu mengamati dengan matanya. Rasulullah Saw berkata: “Mengapa tidak engkau lakukan sebelum ini?! Apakah engkau mau agar ia mati berulang kali?!
Dalam riwayat al-Hakim, Rasulullah Saw bersabda: “Apakah engkau mau membuatnya mati berkali-kali?! Mengapa engkau tidak menajamkan pisaumu sebelum engkau membaringkannya” .
Dari hadits diatas terihat bagaimana Rasulullah Saw menjadi rahmat bagi seekor kambing. Di tengah masyarakat Arab jahiliah yang keras dan kasar bahkan kepada sesama manusia. Tapi Rasulullah Saw memperhatikan akhlak kepada binatang.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah Swt mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Apabila kamu membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Dan apabila kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan pisaunya dan membuat hewan sembelihannya tenang”. (HR. Muslim). Dari teks hadits diatas tersirat sebuah ajaran bersikap lembut dan santun, meskipun itu terhadap seekor binatang yang tidak berakal. Berdasarkan ini Islam melarang menyembelih hewan dengan kuku, tulang dan benda tumpul, karena menyebabkan hewan mati tersiksa. Dalam kondisi tertentum, Islam memperbolehkan membunuh binatang berbisa jika keberadaannya membahayakan dan mengancam manusia, bahkan dalam shalat sekalipun:
اقْتُلُوا الأَسْوَدَيْنِ فِى الصَّلاَةِ الْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ
“Bunuhlah dua yang hitam dalam shalat; ular dan kalajengking”. (HR. Abu Daud). Akan tetapi pembunuhan tersebut dilakukan dengan baik, tidak boleh menyiksa hewan, mesti mati dalam satu pukulan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw menyatakan:
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى جُحْرٍ
“Janganlah salah seorang kamu buang air kecil di lobang tanah”. (HR. al-Nasa’i). Dalam kitab Syarh Sunan al-Nasâ’i disebutkan dua alasan mengapa tidak boleh buang air kecil di lobang tanah. Pertama, karena lobang tanah adalah tempat serangga dan binatang berbisa. Kedua, lobang tanah sebagai tempat tinggal jin. Demikian rahmat yang dibawa Rasulullah Saw mencakup semua makhluk, yang nyata maupun yang tidak nyata, sekalipun itu serangga kecil yang mungkin tidak terlihat oleh mata. Bahkan sosok jin yang tidak terlihat di alam nyata.