Wajar Ditolak, Abdul Somad Menabur Angin Permusuhan Lebih Dulu Dengan PBNU. Ini Dia


Wajar Ditolak, Abdul Somad Menabur Angin Permusuhan Lebih Dulu Dengan PBNU. Ini Dia

Berita Baca

Masih tentang pro kontra Abdul Somad yang sedang ramai diperbincangkan sejumlah tokoh agama dan masyarakat luas. Pasalnya Ia curhat di Medsos dengan mengatakan dirinya mendapatkan sejumlah intimidasi, ancaman sehingga dakwahnya di Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY ditolak. Adalah GP Ansor yang menjadi pusat perhatian sebagai ormas di belakang aksi penolakan itu.

Padahal Ketua Umum GP Ansor sudah memberikan kalrifikasi kepada publik bahwa GP Ansor tidak pernah menolak UAS. GP Ansor hanya mengingatkan Kepolisian khususnya di Jepara akan potensi eks HTI yang mendompleng pada acara Somad atas sejumlah indikasi yang ada.

Sebelum kasus Jepara, Abdul Somad memang kerap mendapatkan penolakan dari warga masyarakat. Bisa jadi karna dakfwanya yang dinilai ada bumbu provokasi dan menyinggung pihak lain. Ia pernah ditolak di Bali, Hongkong, Kudus, yang terakhir di Jepara. Kemenag pusat sebenarnya juga sudah memberikan sinyal tidak merekomendasikan dakwah Abdul Somad. Walaupun tidak bisa dikatakan menolak, namun dengan tidak dimasukkannya Abdul Somad ke dalam daftar mubaligh yang direkomendir Kemenag, pada hakikatnya Kemenag kurang begitu sreg dengan dakwahnya.

KH Said Aqil (merdeka.com)

Khusus untuk Keluarga Besar NU sebenarnya sangat wajar jika tidak suka bahkan menolak Abdul Somad. Hal itu karna Abdul Somad memang yang lebih dulu membuat gara-gara dengan NU. Ia pernah menyudutkan KH Ishomudin, jajaran Pengurus PBNU. Ia juga pernah terang-terangan mengatakan bahwa hanya ada tiga Kyai NU yang perlu diikuti.

Sebagaiamana masih bisa ditemukan jejak digitalnya dengan mudah, baik di akun IG atuaupun Youtube tentang sikap Somad terhadap NU atas sebuah pertanyaan jamaahnya.

Dalam menyikapi Nahdlatul Ulama , sebagaimana video yang diunggah dalam akun IG @ikatanislam (25 Mei 2017) , Ustadz Abdul Somad mengatakan dalam ceramahnya (menjawab pertanyaan jamaah) , bahwa NU yang bisa diikuti di NU ada tiga orang, yakni KH. Luthfi Bashori, KH Idrus Ramli, KH Lutfi Bashori , Buya Yahya, NU Garis Lurus. Menurutnya kyai-kyai itu yang tidak terkena virus sekuler dan liberal. Pernyataan Abdul Somad itu juga banyak diunggah di akun akun Youtube yang lain.

Ia juga mengatakan dalam video itu, ikuti Ulama yang dibenci kafir dan munafik. Saat ini yang paling dibenci KAFIR dan MUNAFIK adalah cucu Baginda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yaitu Habib Rizieq Syihab. Maka jika kalian punya senjata, maka senjata kalian bukan tombak, panah dan senapan. Namun cyber army.

Gus Yaqut ( Duta Islam)

Dari kalimatnya itu, bagi santri-santri yang pernah ngaji di Pesantren, adalah sebuah kesombongan dan tidak memiliki adab yang benar. Sebagai dai muda berani menafikan Ulama-Ulama NU yang sudah malang melintang di Tanah Air ini.

Ungkapan Somad itu, walaupun adalah haknya, sama saja Ia menohok dan merendahkan KH Said Aqil Siradj dan jajaran Ulama NU lainnya yang saat ini berada di pengurus resmi. Padahal NU garis lurus yang disebut Somad adalah pihak yang berseberangan karna ketidakpuasan hasil Muktamar NU di Jombang dulu. Oleh karna itu , bukankah wajar jika para pemuda NU saat ini tidak suka dengan Somad ? Adalah Somad sendiri yang memulai.

Oleh karna itu, seperti ditulis Detik, 30/12/17, wajar seorang cendekiawan muslim NU ,Zuhairi Misrawi juga pernah mengkritik Abdul Somad.

Pada 21 November lalu di laman facebooknya dia menulis, “Somad itu adik kelas saya di al-Azhar. Ilmunya biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Kelebihannya cuman bisa melucu. Kalau soal keilmuan, masih banyak yang lebih pinter, arif, dan tidak ngelunjak.” Demikian tulis Zuhairi Misrawi.**